Bismillahi rohmaani rohiim

.

Jumat, 28 Mei 2010

Menata hati menatap hari

Apalah artinya punya rumah lapang
kalau hati sempit!? Apalah artinya
penampilan yang indah tapi berhati
busuk!? Apalah gunanya harta
banyak tapi hati selalu merasa
miskin!? Apalah mamfaatnya segala
ada tapi hati selalu nelangsa!? Apalah
artinya makanan enak dan mahal
kalau hati sedang dongkol, memang
segala-galanya sangat tergantung
kepada hati kita sendiri.
Sayang seribu sayang kita amat
sibuk memperindah rumah, tubuh,
penampilan, tapi tidak pernah sibuk
memperindah qalbu. Kita sibuk
memperkaya harta tapi jarang
memperkaya hati, maka tidak usah
heran kalau hidup ini hanya
perpindahan dari derita ke sengsara,
dari gelisah ke nestapa, dari resah ke
musibah, seperti tiada berujung
walaupun sudah mendatangi
tempat mana pun, memiliki apa
pun, memakan segala apa pun.
Padahal Nabi Muhammad SAW
bersabda, "Ketahuilah bahwa dalam
tubuh ini ada segumpal daging
yang kalau baik, maka akan baiklah
sekujur tubuhnya. Begitu pun kalau
buruk, maka akan buruklah seluruh
sikapnya. Itulah yang dinamakan
qalbu." (HR. Bukhari Muslim).
Nah, saudaraku sekalian, adalah
mimpi di siang bolong, kalau kita
ingin merasakan hidup bahagia
yang asli tanpa kita mengetahui
bagaimana caranya hidup dengan
memelihara qalbu kita ini. Dijamin
seratus persen tidak akan pernah
merasakan kebahagiaan maupun
kemuliaan tanpa kesungguhan
menata hati ini.
Salah satu biang busuknya hati kita
ini adalah kalau sudah tertipu dalam
mencari harta. Seakan hidup hanya
akan terhormat dan terjamin
dengan banyak uang, sehingga
tidak peduli lagi halal haramnya.
Bagi yang tidak punya uang pun
tidak kalah salahnya, ada sebagian
dari kita yang sering cari jalan
pintas, ingin untung besar dengan
cara enteng, sehingga selain tidak
berharta juga tidak punya harga diri.
Justru sering kita saksikan orang jadi
hina dan sengsara oleh limpahan
harta dan kedudukannya sendiri
yang tentu karena diperolehnya
dengan cara yang tidak benar.
Sepatutnya kalau harta kita tidak
banyak, maka perkayalah batin kita
sehingga tetap terhormat, tidak
menjadi peminta-minta, atau benalu
bagi yang lain. Lihatlah para
koruptor, tukang disuap yang
malang, sesungguhnya harta
mereka sudah melimpah tapi disiksa
dan dihinakan oleh Allah dengan
kemiskinan di hatinya, sehingga
terus saja meminta-minta,
menghisap sana sini, bahkan
kepada rakyat kecil sekalipun
dengan menggadaikan harga
dirinya. Perbuatan ini sungguh hina
dan patut kita kasihani.
Orang yang rizkinya masih pas-
pasan bisa jadi lebih mulia dan
terhormat kalau dapat menjaga
harga dirinya. Maka, marilah sekuat
tenaga jangan sampai kita
menghinakan diri sebagai peminta-
minta, apalagi memeras keringat
orang dengan cara yang tidak halal,
sungguh aib. Percayalah rizki dari
Allah sangat melimpah, tidak akan
tertukar. Lihat kerbau saja yang
tidak sekolah, rizkinya tetap
tercukupi, apalagi diri kita manusia
yang diberi akal dan iman, niscaya
kita akan bertemu dengan rizki
dalam keadaan terhormat.
Marilah saudaraku, kita singsingkan
lengan lebih serius, kita simbahkan
keringat kerja keras kita di jalan
yang halal, didampingi dengan
ibadah dan do'a kita yang sungguh-
sungguh. Jangan risaukan
cemoohan orang tentang harta atau
rumah kita yang sederhana dan
tidak berharga, yang penting kita
bisa mewariskan yang termahal
bagi keluarga, anak-anak, dan
lingkungan kita, yaitu hidup dengan
memiliki harga diri, tidak pernah
mau hidup menjadi beban dan
benalu bagi orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar